WILUJEUNG SUMPING DI BLOG SEDERHANA KAMI KORAN KONGSI [KK] BERITA KHUSUS DESA JAMBAR DAN KONGSI. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA SEMOGGA AMAL IBADAH PUASANYA DI TERIMA ALLOH SWT AMIEN. TONG HILAP LINGGIH DEUI KA WEBSIT KORAN KONGSI HATUR NUHUN

ShoutMix chat widget

PEMANDANGAN - GUNUNG CIREMAI

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 m dpl.Wisata ini banyak dikunjungi oleh wisatawan Nusantara maupun Mancanegara.

OBJEK WISATA - WADUK DARMA

Objek Wisata Waduk Darma terletak disebelah barat daya dari kota Kuningan, tepatnya di Kecamatan Darma dan pada lintasan jalan raya Cirebon - Kuningan - Ciamis, luas areal ± 425 ha dan kapasitas genangan air maksimal ± 39.000.000 m³. Waduk Darma selain berfungsi sebagai bendungan juga berfungsi sebagai tempat rekreasi yang mempesona bagi keluarga, apalagi diwaktu senja karena kita bisa mengitari atau mengelilingi waduk ini dengan perahu yang sudah disediakan.

PEMANDANGAN - SAWAH CIBULAKAN

Sawah cibulakan nyaitu sawah yang terletak di desa jambar letak nya di di kampung kongsi. sawah cibulakan pun memeliki mata air yang jernih dari gunug ciremai

OBJEK WISATA - LINGGAR JATI

Linggarjati kadang-kadang dieja Linggajati adalah sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Ciremai, antara kota Cirebon dan Kuningan. Di tempat ini dilangsungkan Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1946. Tempat diselenggarakannya Perundingan Linggarjati kini dilestarikan sebagai Museum Linggarjati

OBJEK WISATA - CURUG BANGKONG

Curug Bangkong memiliki ketinggian 23 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Daya tarik utama Curug ini terletak bila musim hujan tiba, dimana debit airnya akan membesar, menciptakan air terjun yang terbelah menjadi dua.

Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA. Tampilkan semua postingan

OBYEK WISATA WADUK DARMA

BAGI orang yang akan bepergian menggunakan jalur Ciamis-Cirebon atau sebaliknya, sudah bisa dipastikan akan melewati suatu tempat yang menjadi primadona Kabupaten Kuningan di sektor pariwisata. Ya, Wadukdarma. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayan (Disparbud) Kabupaten Kuningan dalam “Kuningan The Wonderful Nature and Culture”, lokasi Wadukdarma berjarak + 47 km dari Kota Cirebon dan + 12 km ke arah barat daya dari Kota Kuningan. Lokasi tersebut termasuk berada di bawah kaki Gunung Ciremai, sekitar + 715 m di atas permukaan laut (dpl). Berhawa sejuk dan segar dengan kisaran temperatur 18-30 derajat celcius.
Di antara sekian banyak lokasi obyek wisata di Kabupaten Kuningan, Wadukdarma menduduki urutan pertama sebagai kawasan objek wisata air terluas. Klarifikasi tersebut diperkuat oleh pendapat, Uba, warga Kampung Cikalong, RT. 02/01 Desa Jagara Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan yang juga salah seorang pegawai (juru ukur) bawahan mantri ukur yang dipimpin oleh Muchlas sekitar tahun 1962-1964.
Menurut Uba, ketika ditemui Fokus di tempat kerjanya, “luas areal Wadukdarma mencapai kurang-lebih 472 ha. Luas tersebut meliputi delapan desa, yakni Desa Sakerta Timur, Sakerta Barat, Paninggaran, Cipasung, Kawahmanuk, Cikupa, Darma, dan Desa Jagara. Tetapi saat ini, mungkin karena adanya proses erosi dalam kurun waktu yang cukup lama, luas areal genangan air Wadukdarma hanya tinggal kurang-lebih 425 ha.
Uba menjelaskan, “di antara delapan desa, Desa Jagara-lah yang terluas sebagai daerah genangan air Wadukdarma. Kendati demikian, luasnya areal salah satu desa yang menjadi lokasi genangan air waduk, tidak menjamin nama desa tersebut dijadikan nama sebuah waduk. Seperti nama Wadukdarma ini, kalau penamaan waduk ditinjau dari segi luas areal genangan air, antara Desa Jagara dan Desa Darma, justru Desa Jagara-lah prioritas utama sebagai nama waduk.”
Menurut Uba, mungkin pemerintah punya pertimbangan dan pandangan lain yang sangat mendasar menyangkut penamaan waduk itu yang tidak menggunakan nama Jagara. “Demi kemajuan di masa mendatang,” jelas Uba dengan lirih. Alasan nyata yang sangat bisa dimaklumi adalah adanya sumber air dengan debit air dominan serta mengalir secara kontinyu ke waduk berasal dari mata air “Balong Darma” yang sekarang lokasi tersebut berubah nama menjadi “Balong Keramat Darmaloka” berlokasi di Desa Darma. “Maka wajar apabila nama waduk adalah Waduk Darma,” papar Uba sambil tertawa datar.
Seorang tokoh masyarakat yang terlahir sekitar 87 tahun silam dan juga merupakan saksi sejarah terwujudnya Wadukdarma, Abah Sukaedi, saat Fokus sengaja bersilaturahmi ke rumahnya di Kampung Cikalong Desa Jagara, mengatakan, sejarah yang erat kaitannya dengan Wadukdarma dimulai saat Belanda menancapkan kekuasaannya di Bumi Pertiwi ini.
Menurut Abah Sukaedi, sekitar tahun 1932 bangsa Belanda mulai menyusun rencana. Menginjak tahun 1938, pembebasan tanah-tanah rakyat terus dilaksanakan. Namun berhubung tentara Jepang datang, pelaksanaan pembebasan tanah tersebut sempat tertunda. Hal ini bukan berarti tidak jadi. Buktinya, di tahun 1954 Soekarno turun tangan meneruskan rencana pembuatan waduk terebut.

Sejak tahun 1954 itulah, sebagi pegawai, Abah larut dalam kesibukan. Mulai dari pengukuran tanah, mengatur anak buah (pekerja) hingga menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan guna membuat bendungan. “Itu semua Abah laksanakan,” akunya bangga.
Pengerjaan bendungan semasa Pemerintahan Soekarno berlangsung selama kurang-lebih tujuh tahun. Tepatnya tahun 1961, bendungan Wadukdarma diresmikan. Adapun tempat pelaksanaan “gunting pita” peresmiannya adalah di Cirebon, di Cangkol di mana kantor PU pengairan berada.
Masih menurut cerita Abah Sukaedi, seiring dengan tenggelamnya ratusan hektar tanah, ladang sumber mata pencaharian, kesedihan pun muncul mewarnai wajah para penduduk delapan desa yang telah mendarah-daging biasa menggarap tanah untuk menghidupi keluarganya. “Sejak tanah-tanah lahan garapan mulai dibebaskan, sejak itu pula masyarakat dari delapan desa sudah dibikin kelabakan. Bayangkan saja, orang yang sudah bertahun-tahun secara turun-temurun terlena dan menikmati hasil-hasil pertanian dari tanah garapannya, tiba-tiba harus menghentikan kegiatannya tanpa menguasai suatu keahlian lain untuk bekal mencari nafkah, coba pikir. Pokonya, gelap-lah rasanya dunia ini,” tegas Abah Sukaedi.
Tidak berbeda dengan Abah Sukaedi, para penduduk dari desa yang lain pun merasakan hal serupa. Masa transisi ini terlalu berat sehingga membuat mereka tertekan. Apalagi ketika muncul instruksi harus bertransmigrasi, masyarakat semakin stres. Dengan berbagai macam cara (tanpa kekerasan), masyarakat bersama para kiyai menyusun strategi untuk mengantisipasi terjadinya transmigrasi. “Alhamdulillah,” puji Sukaedi, “upaya itu berhasil,” lanjutnya, gembira.
Pemerintah mengabulkan permohonan rakyatnya, yakni mengurungkan pelaksanaan transmigrasi bagi rakyat Jagara dan ketujuh desa lainnya. Masyarakat diberi kesempatan untuk menempati daratan, daerah pasisian di sekeliling Wadukdarma dengan catatan “ikut menjaga” kelestarian lingkungan demi terciptanya Wadukdarma sebagai sumber air yang sehat dan bersih (bebas pencemaran), berdampak positif sebagai lahan untuk menggali sumber kehidupan baru, khusus bagi masyarakat Kecamatan Darma, umumnya bagi masyarakat Kabupaten Kuningan dan sekitarnya.

Awalnya Kebun Pinus

Wadukdarma makin berkembang. Masyarakat yang hidup di pinggiran Wadukdarma pun mulai bisa beradaptasi serta mulai bisa mengambil manfaat dari keberadaan Wadukdarma.
Dari mulut ke mulut, cerita dan nama Wadukdarma terus menyebar, menimbulkan daya tarik serta menggugah rasa keingin-tahuan si Pendengar. Akhirnya, pada hari-hari tertentu banyak orang berdatangan walau sekedar untuk membuktikan kebenaran berita yang didengarnya. “Saat itu, daratan di sekitar Wadukdarma masih berupa kebun pinus dan arealnya pun masih belum tertata,” jelas Abah Sukaedi, “akan tetapi, sekalipun keadaannya demikian, semakin hari jumlah para pengunjung semakin bertambah,” lanjutnya.
Melihat celah adanya peluang-emas yang bisa dimanfaatkan dari para pengunjung, para pemuda setempat berinisiatif mengadakan pungutan secara alakadarnya (sukarela) bagi orang-orang yang ingin masuk menikmati indahnya alam sekitar Kawasan Wadukdarma. Rutinitas kegiatan para Pemuda tersebut rupanya menarik perhatian aparat pemrrintahan Desa Jagara. Maka, atas izin pihak kabupaten, Pemerintahan Desa Jagara saat itu sudah mempunyai sumber pendapatan Desa yang bisa dibilang cukup lumayan.
Kecuali pihak Desa, penduduk di lingkungan itupun, dengan cara usaha membuka warung-warung musiman, mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan serta mulai dapat merasakan adanya suatu jalan kehidupan baru yang menjanjikan.
Namun setelah sekian lama berjalan, pengelolaan tempat rekreasi oleh pemerintahan Desa dikembang, Pemerintah Kabupaten, khususnya Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) saat itu, bekerja-sama dengan pihak PU Pengairan Wadukdarma, mengambil alih dan mengembangkan tempat rekreasi tersebut.

By ALIF BATASA with No comments

SEJARAH CURUG BANGKONG

Asalam mualaikum barodak kongsi yang masih setya menemani koran kongsi atawa (KK) di kesempatan ini koran kongsi mau mau jalan jalan ke curug bangkok.  dimana sih curug bangkong?
apa sih curug bangkong? hahaha asa teu mungkin kalau tidak tahu curug bangkong mah.
Curug Bangkong memiliki ketinggian kurang/lebih 23 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Daya tarik utama Curug ini terletak bila musim hujan tiba, dimana debit airnya akan membesar, menciptakan air terjun yang terbelah menjadi dua.

Selain di balik keindahan fenomena di atas, ternyata ada hal yang lain berupa cerita-cerita dari 'dunia lain' yang selalu mewarnai keberadaannya. Kabarnya, banyak pengunjung datang ke curug ini tak sekedar melancong, tapi untuk tujuan lain, seperti mencari berkah dan berburu kesaktian.
yang penting jangan no togel ajah lah hahahaha


nie koran kongsi mau berbagi carita yeuh dangukeun

Menurut cerita dari mulut ke mulut, dahulu kala, ada seorang 'tua bernama Wiria, berasal dari Ciamis. Ia seorang pertapa,  yang sedang berkelana.  aku berkelana hahahaha (oma saeutik lah) Secara tak sengaja ia menemukan sebuah air terjun atau curug dalam bahasa Sunda. Ketika itulah batinnya merasa terpanggil oleh kekuatan gaib yang ada di sekitar curug. Wiria yakin itulah tempat yang tepat untuk melakukan ‘tirakatnya’. iya pun yakin pisan bila di tempat itu teh pula ia akan dapat ilafat.

Disela-sela tirakat panjangnya, pria berpostur tinggi besar ini menyempatkan diri bergaul dengan masyarakat. Tak hanya itu. Ia pun mendidik masyarakat setempat tata cara membuat gula kawung (gula merah), yang bahan mentahnya melimpah di lingkungan sekitar. Dengan setia pula masyarakat setempat mengikuti ajaran Wira. Sehingga dalam waktu singkat, hampir seluruh penduduk desa pandai membuat gula kawung. Lama-lama pekerjaan itu menjadi mata pencaharian mereka.

Seiring dengan itu, nama Wiria menjadi tokoh yang disegani. Masyarakat memanggilnya Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan. Suatu masa, kembali Wiria mendapat panggilan batin untuk melanjutkan tirakatnya. Ia pun kembali ke areal curug. Konon menurut cerita, Abah Wiria melakukan tapa bratanya itu di balik air terjun, dimana disinyalir di balik air terjun itu ada sebuah gua atau lubang tempat Abah Wiria melakukan semadinya.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Abah Wiria berada di sana. Masyarakat merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini membimbing mereka. Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan tokoh yang berjasa tersebut.

Teka-teki keberadaan Abah Wiria pun merebak ke antero desa. Warga lantas berinisiatif mencarinya, akan tetapi sosok Abah Wiria tak kunjung ditemukan. Dugaan bila Abah Wiria menghilang (moksa) karena telah sempurna melaksanakan ritual tapa bratanya.

Banyak yang menyakini bila tubuh orang tua itu telah menjelma menjadi seekor Bangkong (kodok). Hal itu lantaran sepeninggal Abah Wiria, disekitar air terjun itu sering terdengar suara kodok. Padahal selama ini, jarang warga disitu mendengar ada suara kodok dan anehnya ketika suara kodok itu didekati tiba-tiba menghilang.


          
Berdasarkan dugaan itu, akhirnya air terjun itu diberi nama Curug Bangkong. Dalam perkembangannya bila seseorang mengikuti jejak Abah Wiria bertapa disekitar Curig Bangkong, pastinya akan disambut suara kodok. Nah bila itu yang terjadi cenah, konon sesorang akan bernasib baik, doanya akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa cenah , 
yah cuma sigitu ceritannya baoedak kongsi dari koran (KK)
SEMONGGA BERMANFAAT LAH heheheheh nyengir sautik
 wasalamualaikum wr.wb

By ALIF BATASA with No comments

WADUK DARMA

OBYEK WISATA WADUK DARMA


Waduk Darma nyaeta sebuah danau buatan yang terletak di Desa Jagara, Kecamatan Darma. Dari Kota Kuningan jaraknya sekitar 12 kilometer. Sedangkan, dari kota Cirebon jaraknya sekitar 37 kilometer. Waduk yang mempunyai luas sekitar 425 ha dan kapasitas maksimal airnya mencapai sekitar 39.000.000 m3 ini mulai dibangun sekitar tahun 1958. Untuk mewujudkan waduk ini, ada sekitar delapan desa yang ditenggelamkan.

OBYEK WISATA WADUK DARMA




Pasokan air di Waduk Darma berasal dari beberapa sungai kecil di sekitar Kabupaten Kuningan, seperti Sungai Cinangka dan Sungai Cisalak. Setelah terkumpul di waduk, air tersebut sebagian digunakan untuk irigasi sawah sampai ke Kabupaten Cirebon dan sebagian lagi digunakan untuk kebutuhan air minum oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kota Kuningan dan di sekitar Kota Cirebon.

OBYEK WISATA WADUK DARMA



Selain berfungsi sebagai penampung air, Waduk Darma juga dijadikan sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Panorama di sekitar waduk, terutama pada saat matahari akan tenggelam, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang datang ke waduk itu. Apalagi bila menikmatinya sambil duduk di perahu yang mengelilingi pulau mungil bernama Munjul Goong yang ada di tengah-tengah waduk.

JEMBATAN WADUK DARMA




Namun, obyek wisata ini belum bisa memberikan kontribusi yang berarti terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Kuningan, karena tidak banyak memiliki fasilitas hiburan dan tempat bermain. Saat ini baru tersedia tempat duduk untuk menikmati udara dan pemandangan di sekitar waduk, areal camping, kolam renang bagi anak-anak, perahu motor, dan cottage.


Apabila fasilitas hiburan dan tempat bermain ditambah dan atau diperbaiki, bukan tidak mungkin pengunjung di Waduk Darma akan bertambah beberapa kali lipat dari sekitar 3000 orang perminggunya. Dengan penambahan beberapa fasilitas hiburan, maka pemasukan dana pun bukan hanya dari retribusi masuk saja, tetapi juga dari fasilitas-fasilitas tersebut.

By ALIF BATASA with 4 comments