WILUJEUNG SUMPING DI BLOG SEDERHANA KAMI KORAN KONGSI [KK] BERITA KHUSUS DESA JAMBAR DAN KONGSI. SELAMAT MENJALANKAN IBADAH PUASA SEMOGGA AMAL IBADAH PUASANYA DI TERIMA ALLOH SWT AMIEN. TONG HILAP LINGGIH DEUI KA WEBSIT KORAN KONGSI HATUR NUHUN

ShoutMix chat widget

PEMANDANGAN - GUNUNG CIREMAI

Gunung Ciremai merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 m dpl.Wisata ini banyak dikunjungi oleh wisatawan Nusantara maupun Mancanegara.

OBJEK WISATA - WADUK DARMA

Objek Wisata Waduk Darma terletak disebelah barat daya dari kota Kuningan, tepatnya di Kecamatan Darma dan pada lintasan jalan raya Cirebon - Kuningan - Ciamis, luas areal ± 425 ha dan kapasitas genangan air maksimal ± 39.000.000 m³. Waduk Darma selain berfungsi sebagai bendungan juga berfungsi sebagai tempat rekreasi yang mempesona bagi keluarga, apalagi diwaktu senja karena kita bisa mengitari atau mengelilingi waduk ini dengan perahu yang sudah disediakan.

PEMANDANGAN - SAWAH CIBULAKAN

Sawah cibulakan nyaitu sawah yang terletak di desa jambar letak nya di di kampung kongsi. sawah cibulakan pun memeliki mata air yang jernih dari gunug ciremai

OBJEK WISATA - LINGGAR JATI

Linggarjati kadang-kadang dieja Linggajati adalah sebuah desa yang terletak di kaki Gunung Ciremai, antara kota Cirebon dan Kuningan. Di tempat ini dilangsungkan Perundingan Linggarjati antara Indonesia dan Belanda pada tahun 1946. Tempat diselenggarakannya Perundingan Linggarjati kini dilestarikan sebagai Museum Linggarjati

OBJEK WISATA - CURUG BANGKONG

Curug Bangkong memiliki ketinggian 23 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Daya tarik utama Curug ini terletak bila musim hujan tiba, dimana debit airnya akan membesar, menciptakan air terjun yang terbelah menjadi dua.

OBYEK WISATA WADUK DARMA

BAGI orang yang akan bepergian menggunakan jalur Ciamis-Cirebon atau sebaliknya, sudah bisa dipastikan akan melewati suatu tempat yang menjadi primadona Kabupaten Kuningan di sektor pariwisata. Ya, Wadukdarma. Berdasarkan catatan Dinas Pariwisata dan Kebudayan (Disparbud) Kabupaten Kuningan dalam “Kuningan The Wonderful Nature and Culture”, lokasi Wadukdarma berjarak + 47 km dari Kota Cirebon dan + 12 km ke arah barat daya dari Kota Kuningan. Lokasi tersebut termasuk berada di bawah kaki Gunung Ciremai, sekitar + 715 m di atas permukaan laut (dpl). Berhawa sejuk dan segar dengan kisaran temperatur 18-30 derajat celcius.
Di antara sekian banyak lokasi obyek wisata di Kabupaten Kuningan, Wadukdarma menduduki urutan pertama sebagai kawasan objek wisata air terluas. Klarifikasi tersebut diperkuat oleh pendapat, Uba, warga Kampung Cikalong, RT. 02/01 Desa Jagara Kecamatan Darma Kabupaten Kuningan yang juga salah seorang pegawai (juru ukur) bawahan mantri ukur yang dipimpin oleh Muchlas sekitar tahun 1962-1964.
Menurut Uba, ketika ditemui Fokus di tempat kerjanya, “luas areal Wadukdarma mencapai kurang-lebih 472 ha. Luas tersebut meliputi delapan desa, yakni Desa Sakerta Timur, Sakerta Barat, Paninggaran, Cipasung, Kawahmanuk, Cikupa, Darma, dan Desa Jagara. Tetapi saat ini, mungkin karena adanya proses erosi dalam kurun waktu yang cukup lama, luas areal genangan air Wadukdarma hanya tinggal kurang-lebih 425 ha.
Uba menjelaskan, “di antara delapan desa, Desa Jagara-lah yang terluas sebagai daerah genangan air Wadukdarma. Kendati demikian, luasnya areal salah satu desa yang menjadi lokasi genangan air waduk, tidak menjamin nama desa tersebut dijadikan nama sebuah waduk. Seperti nama Wadukdarma ini, kalau penamaan waduk ditinjau dari segi luas areal genangan air, antara Desa Jagara dan Desa Darma, justru Desa Jagara-lah prioritas utama sebagai nama waduk.”
Menurut Uba, mungkin pemerintah punya pertimbangan dan pandangan lain yang sangat mendasar menyangkut penamaan waduk itu yang tidak menggunakan nama Jagara. “Demi kemajuan di masa mendatang,” jelas Uba dengan lirih. Alasan nyata yang sangat bisa dimaklumi adalah adanya sumber air dengan debit air dominan serta mengalir secara kontinyu ke waduk berasal dari mata air “Balong Darma” yang sekarang lokasi tersebut berubah nama menjadi “Balong Keramat Darmaloka” berlokasi di Desa Darma. “Maka wajar apabila nama waduk adalah Waduk Darma,” papar Uba sambil tertawa datar.
Seorang tokoh masyarakat yang terlahir sekitar 87 tahun silam dan juga merupakan saksi sejarah terwujudnya Wadukdarma, Abah Sukaedi, saat Fokus sengaja bersilaturahmi ke rumahnya di Kampung Cikalong Desa Jagara, mengatakan, sejarah yang erat kaitannya dengan Wadukdarma dimulai saat Belanda menancapkan kekuasaannya di Bumi Pertiwi ini.
Menurut Abah Sukaedi, sekitar tahun 1932 bangsa Belanda mulai menyusun rencana. Menginjak tahun 1938, pembebasan tanah-tanah rakyat terus dilaksanakan. Namun berhubung tentara Jepang datang, pelaksanaan pembebasan tanah tersebut sempat tertunda. Hal ini bukan berarti tidak jadi. Buktinya, di tahun 1954 Soekarno turun tangan meneruskan rencana pembuatan waduk terebut.

Sejak tahun 1954 itulah, sebagi pegawai, Abah larut dalam kesibukan. Mulai dari pengukuran tanah, mengatur anak buah (pekerja) hingga menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan guna membuat bendungan. “Itu semua Abah laksanakan,” akunya bangga.
Pengerjaan bendungan semasa Pemerintahan Soekarno berlangsung selama kurang-lebih tujuh tahun. Tepatnya tahun 1961, bendungan Wadukdarma diresmikan. Adapun tempat pelaksanaan “gunting pita” peresmiannya adalah di Cirebon, di Cangkol di mana kantor PU pengairan berada.
Masih menurut cerita Abah Sukaedi, seiring dengan tenggelamnya ratusan hektar tanah, ladang sumber mata pencaharian, kesedihan pun muncul mewarnai wajah para penduduk delapan desa yang telah mendarah-daging biasa menggarap tanah untuk menghidupi keluarganya. “Sejak tanah-tanah lahan garapan mulai dibebaskan, sejak itu pula masyarakat dari delapan desa sudah dibikin kelabakan. Bayangkan saja, orang yang sudah bertahun-tahun secara turun-temurun terlena dan menikmati hasil-hasil pertanian dari tanah garapannya, tiba-tiba harus menghentikan kegiatannya tanpa menguasai suatu keahlian lain untuk bekal mencari nafkah, coba pikir. Pokonya, gelap-lah rasanya dunia ini,” tegas Abah Sukaedi.
Tidak berbeda dengan Abah Sukaedi, para penduduk dari desa yang lain pun merasakan hal serupa. Masa transisi ini terlalu berat sehingga membuat mereka tertekan. Apalagi ketika muncul instruksi harus bertransmigrasi, masyarakat semakin stres. Dengan berbagai macam cara (tanpa kekerasan), masyarakat bersama para kiyai menyusun strategi untuk mengantisipasi terjadinya transmigrasi. “Alhamdulillah,” puji Sukaedi, “upaya itu berhasil,” lanjutnya, gembira.
Pemerintah mengabulkan permohonan rakyatnya, yakni mengurungkan pelaksanaan transmigrasi bagi rakyat Jagara dan ketujuh desa lainnya. Masyarakat diberi kesempatan untuk menempati daratan, daerah pasisian di sekeliling Wadukdarma dengan catatan “ikut menjaga” kelestarian lingkungan demi terciptanya Wadukdarma sebagai sumber air yang sehat dan bersih (bebas pencemaran), berdampak positif sebagai lahan untuk menggali sumber kehidupan baru, khusus bagi masyarakat Kecamatan Darma, umumnya bagi masyarakat Kabupaten Kuningan dan sekitarnya.

Awalnya Kebun Pinus

Wadukdarma makin berkembang. Masyarakat yang hidup di pinggiran Wadukdarma pun mulai bisa beradaptasi serta mulai bisa mengambil manfaat dari keberadaan Wadukdarma.
Dari mulut ke mulut, cerita dan nama Wadukdarma terus menyebar, menimbulkan daya tarik serta menggugah rasa keingin-tahuan si Pendengar. Akhirnya, pada hari-hari tertentu banyak orang berdatangan walau sekedar untuk membuktikan kebenaran berita yang didengarnya. “Saat itu, daratan di sekitar Wadukdarma masih berupa kebun pinus dan arealnya pun masih belum tertata,” jelas Abah Sukaedi, “akan tetapi, sekalipun keadaannya demikian, semakin hari jumlah para pengunjung semakin bertambah,” lanjutnya.
Melihat celah adanya peluang-emas yang bisa dimanfaatkan dari para pengunjung, para pemuda setempat berinisiatif mengadakan pungutan secara alakadarnya (sukarela) bagi orang-orang yang ingin masuk menikmati indahnya alam sekitar Kawasan Wadukdarma. Rutinitas kegiatan para Pemuda tersebut rupanya menarik perhatian aparat pemrrintahan Desa Jagara. Maka, atas izin pihak kabupaten, Pemerintahan Desa Jagara saat itu sudah mempunyai sumber pendapatan Desa yang bisa dibilang cukup lumayan.
Kecuali pihak Desa, penduduk di lingkungan itupun, dengan cara usaha membuka warung-warung musiman, mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan serta mulai dapat merasakan adanya suatu jalan kehidupan baru yang menjanjikan.
Namun setelah sekian lama berjalan, pengelolaan tempat rekreasi oleh pemerintahan Desa dikembang, Pemerintah Kabupaten, khususnya Dinas Pendapatan Daerah (Dispenda) saat itu, bekerja-sama dengan pihak PU Pengairan Wadukdarma, mengambil alih dan mengembangkan tempat rekreasi tersebut.

By ALIF BATASA with No comments

SEJARAH CURUG BANGKONG

Asalam mualaikum barodak kongsi yang masih setya menemani koran kongsi atawa (KK) di kesempatan ini koran kongsi mau mau jalan jalan ke curug bangkok.  dimana sih curug bangkong?
apa sih curug bangkong? hahaha asa teu mungkin kalau tidak tahu curug bangkong mah.
Curug Bangkong memiliki ketinggian kurang/lebih 23 meter dengan lebar sekitar 3 meter. Daya tarik utama Curug ini terletak bila musim hujan tiba, dimana debit airnya akan membesar, menciptakan air terjun yang terbelah menjadi dua.

Selain di balik keindahan fenomena di atas, ternyata ada hal yang lain berupa cerita-cerita dari 'dunia lain' yang selalu mewarnai keberadaannya. Kabarnya, banyak pengunjung datang ke curug ini tak sekedar melancong, tapi untuk tujuan lain, seperti mencari berkah dan berburu kesaktian.
yang penting jangan no togel ajah lah hahahaha


nie koran kongsi mau berbagi carita yeuh dangukeun

Menurut cerita dari mulut ke mulut, dahulu kala, ada seorang 'tua bernama Wiria, berasal dari Ciamis. Ia seorang pertapa,  yang sedang berkelana.  aku berkelana hahahaha (oma saeutik lah) Secara tak sengaja ia menemukan sebuah air terjun atau curug dalam bahasa Sunda. Ketika itulah batinnya merasa terpanggil oleh kekuatan gaib yang ada di sekitar curug. Wiria yakin itulah tempat yang tepat untuk melakukan ‘tirakatnya’. iya pun yakin pisan bila di tempat itu teh pula ia akan dapat ilafat.

Disela-sela tirakat panjangnya, pria berpostur tinggi besar ini menyempatkan diri bergaul dengan masyarakat. Tak hanya itu. Ia pun mendidik masyarakat setempat tata cara membuat gula kawung (gula merah), yang bahan mentahnya melimpah di lingkungan sekitar. Dengan setia pula masyarakat setempat mengikuti ajaran Wira. Sehingga dalam waktu singkat, hampir seluruh penduduk desa pandai membuat gula kawung. Lama-lama pekerjaan itu menjadi mata pencaharian mereka.

Seiring dengan itu, nama Wiria menjadi tokoh yang disegani. Masyarakat memanggilnya Abah Wiria sebagai bentuk penghormatan. Suatu masa, kembali Wiria mendapat panggilan batin untuk melanjutkan tirakatnya. Ia pun kembali ke areal curug. Konon menurut cerita, Abah Wiria melakukan tapa bratanya itu di balik air terjun, dimana disinyalir di balik air terjun itu ada sebuah gua atau lubang tempat Abah Wiria melakukan semadinya.

Berhari-hari bahkan berbulan-bulan Abah Wiria berada di sana. Masyarakat merasa kehilangan seorang tokoh yang selama ini membimbing mereka. Mereka khawatir terjadi sesuatu dengan tokoh yang berjasa tersebut.

Teka-teki keberadaan Abah Wiria pun merebak ke antero desa. Warga lantas berinisiatif mencarinya, akan tetapi sosok Abah Wiria tak kunjung ditemukan. Dugaan bila Abah Wiria menghilang (moksa) karena telah sempurna melaksanakan ritual tapa bratanya.

Banyak yang menyakini bila tubuh orang tua itu telah menjelma menjadi seekor Bangkong (kodok). Hal itu lantaran sepeninggal Abah Wiria, disekitar air terjun itu sering terdengar suara kodok. Padahal selama ini, jarang warga disitu mendengar ada suara kodok dan anehnya ketika suara kodok itu didekati tiba-tiba menghilang.


          
Berdasarkan dugaan itu, akhirnya air terjun itu diberi nama Curug Bangkong. Dalam perkembangannya bila seseorang mengikuti jejak Abah Wiria bertapa disekitar Curig Bangkong, pastinya akan disambut suara kodok. Nah bila itu yang terjadi cenah, konon sesorang akan bernasib baik, doanya akan dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa cenah , 
yah cuma sigitu ceritannya baoedak kongsi dari koran (KK)
SEMONGGA BERMANFAAT LAH heheheheh nyengir sautik
 wasalamualaikum wr.wb

By ALIF BATASA with No comments

SEJARAH GUNUNG LUHUR

SASAKALA GUNUNG LUHUR DESA JAMBARkoran kongsi mau cerita sautik yeuh euy tentang gunung yang ada di dayeuh nyaeta desa jambar apal lah urang jambar mah pasti hehehehehe
Gunung Luhur hanya berketinggian 800 Mdpl. Tapi di gunung ini tertoreh sejarah perjuangan. Di sinilah para pejuang kemerdekaan dieksekusi penjajah. Leher mereka dipenggal dan jasadnya langsung dikubur. Di sini juga terdapat satu makam yang kerap di sowani pejabat penting. Ia adalah makam Mbah Buyut Rundasih yang terkadang menebar bau harum. Siapa Rundasih ini? Dan siapa pula pejabat penting yang ngalap berkah di tempat ini?
Di kaki gunung tertinggi di Jawa Barat (Ciremai), terdapat sebuah desa yang dalam perang Kemerdekaan RI memegang peranan penting. Sayang, peranan penting itu tidak tercatat dalam sejarah. Namanya Desa Jambar yang secara administratif masuk dalam wilayah Kecamatan Nusaherang, Kabupaten Kuningan, Jabar. Tokoh-tokoh bangsa yang menjadi saksi peranan penting desa ini antara lain Umar Wirahadikusumah (mantan Wapres RI), Slamun AT, Rukman dan Abimanyu.

Banteng edan
Menurut cerita salah seorang sesepuh Desa Jambar, Mbah Jaya Madhar, pada masa Kerajaan Kajene masih berdiri, pernah terjadi peristiwa yang sangat menghantui rakyat. Yakni munculnya munding edan (banteng gila) yang entah dari mana asalnya. Kemunculannya membuat para penduduk, terutama petani, terhambat aktivitasnya. Mereka tidak berani keluar rumah karena takut diseruduk banteng gila itu.

Sudah banyak korban akibat kebuasan banteng gila tadi. Karenanya mereka menjadi sangat resah. Setiap keluar rumah, mereka selalu dihantui rasa was-was akan kemunculan munding edan. Pendek kata, masyarakat tidak tenteram. Oleh sebab itulah rakyat beramai-ramai mengadukan persoalan tersebut kehadapan Raja Kajene. Mereka meminta agar sang raja mengerahkan prajuritnya untuk menangkap dan musnahkan munding edan tadi.

Mendapat laporan dari rakyat, raja segera mengerahkan para prajurit dan hulubalang untuk menangkap hidup atau mati munding edan. Setelah pasukan khuus disiapkan, berangkatlah mereka menuju Desa Jambar. Strategi penangkapan terhadap munding edan pun disusun. Perburuan segera dilakukan.

Tapi upaya mengerahkan pasukan khusus Kerajaan Kajene tak membuahkan hasil. Selain tak bisa ditebak kapan kemunculannya, ternyata munding edan terlalu perkasa buat mereka. Malah beberapa prajurit menjadi tumbal keganasan munding edan yang memiliki kekuatan tiada tara itu. Akhirnya raj amenarik pasukan dan mengeluarkan sayembara kepada siapa saja yang dapat menangkap hidup atau mati munding edan, maka segala permohoanannya akan dikabulkan.

Utusan Sunan

Bersamaan dengan adanya sayembara itu, secara kebetulan datanglah seorang utusan Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati, dari Keraton Cirebon, yang bernama Rundasih. Utusan ini mendapat tugas menyiarkan agama Islam di wilayah Kuningan sebelah Barat. Namun oleh penduduk setempat, kehadiran Rundasih ditentang, sebab waktu itu Kunngan masih menganut agama Sanghyang.

Saat berada di desa Jambar, Rundasih mencoba mengambil kesempatan untuk menyelamatkan penduduk dari ancaman munding edan. Rundasih lantas meminta pertolongan Allah SWT, agar dapat mengalahkan munding edan. Maka dengan ucapan Bismillahirrahmanirrohim, ia berangkat megnhadapi munding edan seorang diri. Dengan kesaktian dan pertolongan Allah SWT, Rundasih berhasil mengalahkan munding edan itu sekaligus meringkusnya. “Pertarungan tersebut berlangsung sampai tujuh hari tujuh malam. Si munding lantas di sembelih lalu dagingnya dibagikan kepada penduduk,” tutur Jaya Madhar, sesepuh Desa Jambar.

Atas keberhasilannya itu, rakyat sangat berterima kasih. Raja Kajene pun memanggilnya ke istana. Ketika ditanya apa keinginannya, Rundasih hanya minta agar diberi keleluasaan untuk menyebarkan agama Islam dan mendirikan pesantren. Sejak itu, agama Islam pun tersiar di Kuningan dan banyak masyarakat yang tertarik. Rundasih pun menjadi tokoh yang paling disegani dan dihormati. Hingga kini, peninggalannya masih tersisa, meski hanya sebuah nama blok Pesantren. Di akhir hayatnya, Rundasih meninggal dan dimakamkan di Blok Pahing Desa Jambar. Sejak saat itu, makamnya dikeramatkan dan sering diziarahi orang.

Disowani Pejabat

Dalam perkembangannya, maka Mbah Buyut Rundasih kerap dijadikan ajang ngalap berkah. Seperti diungkap kuncen Kuningan, Memet Rakhmat DS, Spt, bahwa pada zaman orba, makam keramat Mbah Buyut Rundasih sering disowani orang-orang dari luar Kabupaten Kuningan, terutama para pejabat tinggi negara. Bahkan pernah ada seorang jutawan yang juga fungsionaris Partai Golkar, ingin membangun makam tersebut sekitar tahun 1995. namun oleh kuncen makam Buyut Rundasih, Jaya Madhar, rencana itu ditolak. Sebab, Mbah Jaya Madhar pernah mendapat wangsit agar makam cukup dipelihara saja, tidak perlu dibuat megah.

Masih menurut wangsit yang diterima Jaya Madhar, alasan lain menolak rencana itu karena tidak lama lagi akan ada pohon beringin besar di kompleks makam yang tumbang. Menurut Mbah Jaya Madhar, itu merupakan totonden (isyarat) bahwa partai berlambang pohon beringin tersebut tidak lama lagi akan ambruk. “Tentu saja penolakan dan ocehan Mbah Jaya Madhar itu dicemoh banyak orang. Sebab kala itu Golkar sedang dipuncak kejayaan,” tutur Memet Rakhmat yang akrab disapa Mang Jasos ini.

Dan ternyata benar saja, tak berap alama, pohon beringin itu benar-benar roboh. Ocehan Mbah Jaya madhar berdasarkan wangsit itu benar adanya. Kini, pohon beringin yang tumbah itu tumbuh lagi, namun telah ditebang entah oleh siapa. Bahkan anehnya, sesekali dari areal makam Mbah Buyut Rundasih di gunung Luhur, terkadang mengeluarkan bau harum. Makam Mbah Buyut Rundasih pun semakin ramai diziarahi. Mereka umumnya para pejabat penting negeri ini, yang datang diam-diam.
mungkin cukup sekian topik dari koran kongsi lain waktu di sambung lagi

By ALIF BATASA with 1 comment

PETA DESA JAMBAR DAN KAMPUNG KONGSI

PETA DESA JAMBAR DAN KAMPUNG KONGSI 
asalamualaikum wah ketemu lagi euy sareng baraya ti kongsi kumaha damang barudak kongsi ?ketemu lagi nih sama koran kongsi anu siap tanggap dan cepat beritannya hahahahahah.  dari timur ke barat selatan ke utara hahaha siga lagu cari jodoh bae [KK]  koran kongsi mencari topik berita tentang peta desa jambar dan kampung kongsi  tak kunjung ketemu juga, namun akhirnnya  di kesempatan hari ini koran kongsi (kk) menemukan juga letak titik tumpunnya peta kampung kongsi. barudak kongsi bisa lihat sendiri mulai dari peta desa jambar sampe kampung kongsi di bawah sini (di handap  hahaha)
keterangan : klik pada gambar untuk meperbesar (zoom)

MAP/PETA KAMPUNG WAGE KARANG TENGAH ( KONGSI)

MAP/PETA DESA JAMBAR
allhamdulilah akhirnnya koran kongsi bisa menujukan peta dimana kita dilahirkan dan di besarkan di kampung wage karang tengan (kongsi). heheheh jadi kepengen cepet mudik nih? mungkin hanya itu saja topik yang bisa  kami sajikan. semongga isi dari postingan ini bisa bermanpaat  walaupun hanya gambar nya saja khusus nya buat warga kampung kongsi amin. kurang lebih nya kami koran kongsi
ucapkan hatur nuhun. wasalamualikum wr.wb

By ALIF BATASA with 2 comments

PEMANDANGAN GUNUNG CIREMAI

Asalamulaikum barudak kongsi kumaha damang hahahahaha jumpa lagi dengan saya
saha cing saha? saha nunanya hahahahahahahahah kali ini  dalam topik kami yaitu tadabur alam
melilihat permandangan gunung ciremai di belah wetan pangkalan ojeg cibulakan hahahahahahah
Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat. bener teu Letaknya di Kabupaten Kuningan. Dari Kota Kuningan Ciremai ini letaknya di sebelah Barat mereun lah



Saat saya akan mudik lebaran kemarin saya tuh mencoba photo photo tidak sengaja, tapi tidak di sangka ternyata semua ini ada hikmahnnya yaitu saya bisa melestarikan indahnnya gunug ciremai


Kalau dilihat pengambilan foto dari hape tuh aga sulit sih jarak tempuhnnya tidak pas pada titik puncak
tapi da allhamdulilah lah bisa terbukti ya begitu indahhnya tuhan menciptakan bumi ini coba lihat di bawah ini


alloh hu akbar alloh maha besar ya betapa indahnnya coba alloh menciptakan gunung dengan tinnginnya menjulang ke langit subhanallah kita bersukur lah barudak kongsi, makannya sing areling lah sekarang mah hahahahahah, ya sudah lah semogga bermanfaat postingan dari saya barudak kongsi
selamat berjumpa kembali wasalamualaikum wr.wb
bye . . .bye
 

By ALIF BATASA with 2 comments

BUKU TAMU KORAN KONGSI



By ALIF BATASA with No comments

TV ONLINE KORAN KONGSI

By ALIF BATASA with No comments

WADUK DARMA

OBYEK WISATA WADUK DARMA


Waduk Darma nyaeta sebuah danau buatan yang terletak di Desa Jagara, Kecamatan Darma. Dari Kota Kuningan jaraknya sekitar 12 kilometer. Sedangkan, dari kota Cirebon jaraknya sekitar 37 kilometer. Waduk yang mempunyai luas sekitar 425 ha dan kapasitas maksimal airnya mencapai sekitar 39.000.000 m3 ini mulai dibangun sekitar tahun 1958. Untuk mewujudkan waduk ini, ada sekitar delapan desa yang ditenggelamkan.

OBYEK WISATA WADUK DARMA




Pasokan air di Waduk Darma berasal dari beberapa sungai kecil di sekitar Kabupaten Kuningan, seperti Sungai Cinangka dan Sungai Cisalak. Setelah terkumpul di waduk, air tersebut sebagian digunakan untuk irigasi sawah sampai ke Kabupaten Cirebon dan sebagian lagi digunakan untuk kebutuhan air minum oleh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) di kota Kuningan dan di sekitar Kota Cirebon.

OBYEK WISATA WADUK DARMA



Selain berfungsi sebagai penampung air, Waduk Darma juga dijadikan sebagai sarana rekreasi dan olahraga. Panorama di sekitar waduk, terutama pada saat matahari akan tenggelam, menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang yang datang ke waduk itu. Apalagi bila menikmatinya sambil duduk di perahu yang mengelilingi pulau mungil bernama Munjul Goong yang ada di tengah-tengah waduk.

JEMBATAN WADUK DARMA




Namun, obyek wisata ini belum bisa memberikan kontribusi yang berarti terhadap pendapatan asli daerah Kabupaten Kuningan, karena tidak banyak memiliki fasilitas hiburan dan tempat bermain. Saat ini baru tersedia tempat duduk untuk menikmati udara dan pemandangan di sekitar waduk, areal camping, kolam renang bagi anak-anak, perahu motor, dan cottage.


Apabila fasilitas hiburan dan tempat bermain ditambah dan atau diperbaiki, bukan tidak mungkin pengunjung di Waduk Darma akan bertambah beberapa kali lipat dari sekitar 3000 orang perminggunya. Dengan penambahan beberapa fasilitas hiburan, maka pemasukan dana pun bukan hanya dari retribusi masuk saja, tetapi juga dari fasilitas-fasilitas tersebut.

By ALIF BATASA with 4 comments